Memahami Perubahan Iklim

Hari ini saya menemukan link yang sangat menarik sekali. Link salah satu situs NASA ini menyediakan informasi tren perubahan iklim dengan tampilan yang mudah dimengerti dan dinamis, tidak perlu membaca laporan dengan data-data iklim tahunan yang panjang. Pemodelan seperti ini mungkin hanya dilihat oleh saya dan teman-teman dikelas. Kali ini saya ingin berbagi mengenai gambaran perubahan iklim global pada pembaca. Oh ya, untuk masuk ke link aslinya, silahkan klik tautan diakhir artikel ini ya.

sea ice

Gambar diatas merupakan pemodelan perubahan lapisan es Artik tahun 1979 sampai 2014.

global temperatur

Gambar diatas merupakan pemodelan suhu global sejak tahun 1884 hingga 2014. Tren warna global yang semakin merah menandakan rata-rata suhu bumi meningkat.

carbon diokside

Gambar diatas merupakan pemodelan perubahan CO2 secara global dari tahun 2002 hingga 2014. CO2 merupakan gas rumah kaca yang sangat hits dibicarakan karena ‘ulah’nya. Sebenarnya CO2 inilah yang membuat bumi kita layak huni setelah zaman es. Akan tetapi trennya yang semakin meningkat, justru mengkhawatirkan. Padahal, dilihat dari sifat molekulnya, H2O(uap air) merupakan gas rumah kaca yang paling baik menahan panas untuk tetap berlama-lama di atmosfer dan tentunya lebih menyebabkan suhu udara menjadi hangat.

Tapi kenapa CO2 yang diributkan ?

Itu karena CO2 merupakan hasil dari pembakaran energi yang berkaitan langsung dengan aktivitas manusia yang selalu membutuhkan energi. Dimana-mana, residu penggunaan energi adalah CO2. Sifatnya yang sangat dinamis, Fluktuasi yang besar, tidak stabil, serta jangka waktu CO2 ‘betah’ di atmosfer lebih lama dibanding H2O maupun gas-gas yang lain menjadikan gas ini sebagai salah satu indikator perubahan iklim global. Sehingga dengan nilai peningkatan yang sedikit saja, pengaruhnya dapat terasa sampai sekian lama.

Sea levels

Gambar diatas merupakan tren kenaikan muka air laut apabila lapisan es di Greenland mencair. Jika semua es mencair, dimodelkan kenaikan muka air laut dapat menyentuh angka 5 hingga 7 meter.

Banyak indikator yang dapat digunakan untuk melihat seberapa besar perubahan iklim global di Bumi kita.

Kenapa kita harus peduli ?

Ya, kecuali jika manusia sudah benar-benar punya Bumi lain yang layak untuk dihuni, mungkin kita tidak perlu peduli.

Tapi, nyatanya, meskipun beberapa saat yang lalu NASA menyatakan telah menemukan air di Mars, itu bukan jaminan kita bisa tinggal disana. Masih jauh pertimbangan diatas segalanya.

Melihat perubahan iklim memang sangat baik dari segi paleoklimat. Yap, mempelajari iklim sekaligus sejarah bumi ini dari awal terbentuknya hingga sekarang. Karena, pemodelan dimasa lalu dapat digunakan juga untuk proyeksi dimasa depan.

Kalau hanya sekedar perubahan hujan yang tidak kunjung turun, atau tren hujan yang berubah, itu masih belum bisa mendekati pemodelan perubahan iklim. Curah hujan adalah unsur iklim yang memiliki variabilitas tinggi. Setiap daerah di Indonesia saja memiliki model hujannya masing-masing. Musim hujan dapat masuk lebih awal, pun juga musim kemarau. Namun polanya selalu tetap. Beberapa peristiwa seperti ENSO, IOD, MJO dan lain sebagainya akan mempengaruhi variabilitas hujan di waktu-waktu tertentu. So, jika hujan belum kunjung turun, sabar saja. Orang sabar disayang Tuhan 🙂 .

Indikator lain yang sering sekali dilupakan untuk mengidentifikasi perubahan iklim adalah albedo. Albedo merupakan rasio antara radiasi matahari yang dipantulkan dan diserap oleh permukaan bumi. Semakin tinggi nilai albedo, itu tandanya radiasi matahari yang dipantulkan juga semakin besar, sehingga suhu bumi lebih dingin. Jika nilai albedo rendah, berarti radiasi matahari yang diserap oleh permukaan bumi lebih besar, sehingga suhu bumi lebih hangat.

Lalu, apa hubungannya?

Benda-benda yang dapat memantulkan kembali radiasi matahari beberapa diantaranya adalah es (terbaik) dan vegetasi. JIka saat ini es semakin mencair, sedangkan lahan vegetasi maupun hutan dialih fungsikan menjadi bangunan, yang terjadi adalah radiasi matahari yang diserap oleh permukaan bumi menjadi bertambah. Hal itu juga menyebab suhu bumi meningkat.

Akhirnya, kita harus bagaimana ?

Sebagai bentuk syukur kita pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah tercurah limpahkan, hendaknya kita selalu menjaga apa-apa yang telah Tuhan titipkan. Penghematan energi adalah salah satu langkah kecil untuk menyelamatkan Bumi kita yang sudah renta.

Semoga bermanfaat ^_^

Klik disini dan disini untuk pengetahuan lebih lengkap dan menarik 🙂

Bercerita Pada Ibu

Ibuku yang cantik

Beberapa malam yang lalu, setelah selesai dengan deadline malam itu, aku menelpon ibu. Ini hal yang biasa saja sebenarnya, karena dalam seminggu kami bisa berkali-kali melakukannya tanpa pernah peduli pulsa. Tapi bukan itu poinnya. Kali ini aku bercerita suatu hal yang aku sendiri sulit memutuskan. Biasanya kami memang bercerita apa saja ketika di rumah, jadi sulit sekali untuk menahan tidak bercerita pada ibu ketika sedang merasa ingin tumpah.

Betapa ibu merupakan tempat untuk pulang yang sempurna. Beliau mendengarkan segala keluh kesahku dengan setia –dititik ini aku ingat, apalagi dengan Dzat Yang Maha Mendengar, bahkan tanpa hambanya bicara, namun terkadang hambanya sering lupa–

Ibu menanggapi semua ceritaku dengan sangat dewasa (karena memang ibu sudah dewasa, hehe). Beberapa diantara kami memang sejalan, namun ada satu dua yang bersebrangan. Tapi itu bukan masalah besar. Ibuku, sangat menerima apa adanya. Selayaknya sebagai seorang sahabat, ibu juga memposisikan dirinya sebagai gadis yang umur belasannya akan segera berakhir. Nyaman sekali tutur katanya.

“Sekolahmu jauh, nduk, lulus dulu, terus kerja, biar mbak ngrasain gimana pegang uang sendiri, jadi wanita yang mandiri. Biar mbak bisa beli apa yang mbak mau” (batinku : cuma bahagiain ibu sama ayah dan sekolahin adik-adik, yang mbak mau).

Ibu menanggapi dengan sangat netral. Tidak banyak pertimbangan, namun tegas dan jelas. Beliau membuatku semakin kuat. Mengajariku untuk tetap jernih diatas keruhnya pikiran. Membuatku yakin untuk melanjutkan semua kesabaran, terhadap tingkahku, pikiranku, masalahku, keegoanku, tugasku dan juga perasaanku. Mungkin memang ini perjuangannya. Perjuangan untuk tetap bersabar menyelesaikan satu tanggung jawab yang kubawa dari rumah. Kuliah.

Ibuku sayang, yang kuyakin juga sangat menyayangiku. Yang selalu ingin kabar bahagia dariku. Aku hanya ingin membuatmu bangga mempunyai anak perempuan sepertiku. Aku hanya ingin selalu bisa membuatmu tersenyum bahkan tertawa dengan semua cerita dan tingkahku. Kalau bisa aku ingin berlama-lama selamanya denganmu. Ibuku yang cantik, tak ingin sedikitpun kugores raut kecewa diparasmu. Ibuku yang baik hati, bagaimana bisa selama ini engkau menjadi rumah terteduh bagiku saat aku ragu harus melangkah ? Bagaimana bisa engkau menjadi seorang ibu sehebat itu ?

Ibuku yang cerdas, cekatan, ramah, dan selalu menerima apa adanya. Ibuku yang tegas, lembut, ceria dan selalu dicari kemana-mana. Ibu, yang tak pernah lupa asal Penciptaannya. Ibu yang selalu mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa tanpaNya. Ibu yang tulus memberi tanpa meminta. Ibu yang selalu kuat dan tidak mengenal kata menyerah. Ibu yang selalu meyakinkan untuk selalu berbuat baik pada semua orang. Yang selalu mengajarkan bahwa amal baik akan selalu menyertakan perlindunganNya pada setiap perbuatan.

Ibuku yang selalu bilang bahwa ibu bukan orang yang paling baik, tapi ibu selalu berusaha jadi lebih baik. Ibu yang selalu ingat jadwal ng-asprak-ku. Ibu yang dari rezekiNya selalu menghidupiku. Ibu yang selalu kurasakan doanya bergema dilangit-langit malam. Ibu yang berjuang untuk anak-anak dan keluarganya. Ibu, yang selalu membuatku bahagia memilikinya.

Betapa baiknya Allah yang mengizinkanku terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat menyenangkan. Aku mencintaimu bu, karena segala kebaikan dariNya 🙂

Burung-burung Berkicauan Teramat Bahagia

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Fii layaaliil maulidi

Fii layaaliil maulidi

Abdullah nama ayahnya, Aminah ibundanya…

Abdul Muthalib kakeknya, Abu Thalib pamannya…

Khadijah istri setia, Fathimah putri tercinta…

Semua bernasab mulia, dari Quraisy ternama…

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka …

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Fii layaaliil maulidi

Fii layaaliil maulidi

Dua bulan di kandungan, wafat ayahandanya…

Tahun Gajah dilahirkan, yatim dengan kakeknya…

Sesuai adat yang ada, disusui Halimah…

Enam tahun usianya, wafat ibu tercinta…

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka …

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Fii layaaliil maulidi

Fii layaaliil maulidi

Delapan tahun usia, kakek meninggalkannya…

Abu Thalib pun menjaga, paman paling membela…

Saat kecil penggembala, dagang saat remaja…

Umur dua puluh lima, memperistri Khadijah…

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka …

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Fii layaaliil maulidi

Fii layaaliil maulidi

Diumur ketiga puluh, mempersatukan bangsa…

Saat peletakan batu, Hajar Aswad mulia…

Genap 40 tahun, mendapatkan risalah…

Ia pun menjadi Rosul, akhir para Anbiya…

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Inilah kisah sang Rosul, yang penuh suka duka….

Oh…Penuh Suka Duka, Oh…Penuh Suka Duka …

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Roohatil athyaaru tasyduu fii layaaliil maulidi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Wa bariiqun-nuuri yabduu min ma’aanii Ahmadi

Fii layaaliil maulidi

Fii layaaliil maulidi

Judulnya Rohatil Ahyaru Tasydud yang artinya burung-burung berkicauan teramat bahagia (lanjutannya bisa googling lah ya).

Jadi, udah lama nggak posting, dan entah malam ini pingin posting aja

Tadi pagi seusai ngasprak Sosiologi Umum, salah satu praktikan izin untuk stand up di depan teman-temannya sebelum responsi benar-benar ditutup. Tema yang dia bawakan tentang hijrah. Singkat cerita, sampailah dia bercerita kenapa Rasul hijrah dari Makkah ke Madinah. Materi stand up yang menarik menurutku. Tidak cukup disitu saja, tetiba dia menyanyikan sepenggal lagu diatas,

Abdullah nama ayahnya, Aminah ibundanya…

Abdul Muthalib kakeknya, Abu Thalib pamannya…

Khadijah istri setia, Fathimah putri tercinta…

Semua bernasab mulia, dari Quraisy ternama…

Suaranya biasa saja, tapi cukup membuatku ‘deg’ ….

Lalu dia melanjutkan materinya

Kemudian menyanyikan penggalan lagu selanjutnya

Dua bulan di kandungan, wafat ayahandanya…

Tahun Gajah dilahirkan, yatim dengan kakeknya…

Sesuai adat yang ada, disusui Halimah…

Enam tahun usianya, wafat ibu tercinta…

‘deg!’

Yang tadinya raut wajahku senyum ketawa-ketawa, demi mendengar penggalan lagu ini seketika berubah jadi… speechless. Nggak tau kenapa, rasanya semua pikiranku berhenti dan aku membayangkan lagu itu sampai-sampai harus berusaha keras menahan air mata biar nggak tumpah (karena masih di kelas). Padahal, dia nyanyiinnya biasa aja, tapi entahlah, hatiku yang keras ini bisa tiba-tiba jadi remah-remah.

Lagu ini sering dibawakan adik-adik di masjid sekitar kosan menjelang maghrib, tapi tidak pernah sekalipun aku memperhatikan keseluruhan liriknya. Cerita ini juga sudah tamat dihafalkan dari jaman masih suka mainan tanah. Tapi, entah apa rasanya tadi seperti diketuk pelan-pelan dan dibisiki “bayangkan perasaannya, orang-orang tersayangnya satu persatu pergi meninggalkannya, tapi dia tidak pernah berhenti menyayangi sahabat dan umatnya, apa yang sudah kamu lakukan sebagai yang mengaku umatnya?”

Saat mengetik ini pun, lagunya masih berputar dan diulang-ulang, sembari menemani ngedraft di kampus.

Hmmmm

Rindu rasanya…

Rindu yang nggak ngerti gimana cara ngobatinnya, saat kita tahu yang kita rindukan sudah jauh di surga sana.

Rindu yang bikin bergetar saat memikirkan namanya saja.

Rindu bahagia, rindu sesak, rindu teramat sangat

Rindu teriring doa

Semoga kelak dihimpun bersama Rasul dan keluarganya di surga.

12Mei2017/22.17/Lab Hidro

Seni Komunikasi

Butuh berkali-kali interaksi untuk bisa mengerti dimana letak indahnya mengatakan kebenaran tanpa harus menyakiti. Mungkin perlu pengalaman pahitnya lidah tak bertulang. Kemudian jadilah ahli komunikasi yang bijak.
Pembelajaran yang aku pikir klasik, ternyata pas dihadapkan demikian tidak sesimple yang dibayangkan. Hehe.
Jujur itu mutlak
Kebenaran harus disampaikan
Tapi dengan cerdas
Karena manusia tidak akan luluh jika hanya mulut yang bicara, tetapi juga hati yang ikhlas dan otak yang berfikir ‘bagaimana jika aku menjadi dia’. Maka kemudian akan timbulah saling paham atas apa yang telah masing-masing utarakan tanpa sakit berkepanjangan karena tersinggung atau tidak sepemikiran.

Bogor(panas), 9/3/2017

14.42